Senin, 15 April 2013

KONTRAK DI TANAH SENDIRI
Oleh: Riyanto Solichin

           Kota Semarang adalah salah satu kota pesisir di Indonesia yang tengah berjuang menghadapi ekspansi air laut (rob) yang kian mengganas. Boleh diceritakan sedikit oleh penulis yang asli Semarang dan terlahir di daerah pesisir sebelah timur kota Semarang. Dulu sekitaran Tambak lorok ( TPI ) ke timur arah Kabupaten Demak terbentang banyak sekali tambak yang dikelola warga secara tradisional, tanggul antar tambakpun masih ada dan sebesar apapun rob yang datang tidak pernah bisa melewati tanggul. Dan juaga ada sungai yang berfungsi untuk mengalirkan air rob untuk masuk ke tambak-tambak petani, yang setiap tambaknya ada gubug dan pintu untuk memasang perangkap ikan yang tiap paginya diambil para petambak. Disebelah utara tambak terbentang pantai yang luas sehingga dapat untuk main sepak bola.
Tapi kini tak ada lagi tanggul tambak, sungai apalagi gubug-gubug penunggu, semuanya hilang yang tinggal adalah jaring hitam penanda areal yang apabila terjadi rob besar tamatlah riwayatnya.
                   Kini rob tidak cuma melanda tambak saja tapi sudah masuk kampung, jalan raya, bahkan sudah merambah pasar johar. Bukan saja warga yang berlomba-lomba meninggikan rumahnya tapi pemerintahpun kewalahan mengatasi serbuan rob.
Masyarakat yang tinggal tidak jauh dari pantai (+ 2 KM) merasakan dampak langsung, mereka harus mau mengeluarkan dana untuk meninggikan rumahnya minimal lima tahun sekali. coba dihitung berapa pengeluaran untuk kebutuhan ini. sama saja mereka membayar lima tahun sekali untuk menempati rumahnya sendiri, apakah ini akan terus berlalu. atau membiarkan rumahnya terhapus dari peta karena tergenang rob      dan tidak bisa ditempati 
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar